Hari Esok kan Lebih Baik dari Hari Ini: Broken Home ≠ Broken Dreams

Broken Home ≠ Broken Dreams

Hari Esok kan Lebih Baik dari Hari Ini: Broken Home ≠ Broken Dreams

Purwakarta, candatangan – Dikutip dari psychologydictionary.org, broken home adalah sistem dalam rumah tangga orang tua tunggal. Kondisi broken home terjadi karena kondisi keluarga tidak lagi utuh karena perceraian atau salah satu orang tua meninggal.

Dikatakan keluarga broken home ketika memiliki kriteria sebagai berikut:

  • Kematian salah satu atau kedua orang tua.
  • Divorce, (kedua orang tua berpisah atau bercerai)
  • Poor marriage , (hubungan orang tua dengan anak tidak baik)
  • Poor parent-childern relationship, (hubungan orang tua tidak baik)

Depresi Broken Home 

Depresi menjadi salah satu gangguan yang mengintai anak broken home, yaitu anak yang hidup terpisah dengan orangtua akibat perceraian. Harus menghadapi perceraian orangtua sejak kecil memang bisa meningkatkan risiko seorang anak mengembangkan gangguan kesehatan mental, salah satunya adalah depresi. Setelah orangtua berpisah, dampak yang terasa adalah hilangnya kehangatan dan sosok serta kehadiran salah satu orangtua. 

Anak broken home sangat rentan merasakan kesepian akibat rasa kehilangan yang dialami. Seringnya, anak juga akan merasa terasing, takut ditinggal sendirian, marah, merasa ditolak, tidak aman, serta kebingungan. Perceraian nyatanya bisa menyebabkan gangguan psikologis yang serius pada anak serta perkembangan yang terganggu pula. Perceraian pada orangtua paling sering memicu depresi pada anak dalam tingkat dan jenis yang berbeda-beda. 

Jenis Depresi yang Bisa Terjadi pada Anak Broken Home 

Depresi merupakan salah satu jenis gangguan psikologis. Kondisi ini terjadi akibat adanya gangguan mood yang serius, jauh lebih serius dibanding perasaan sedih yang berlarut-larut. Ada banyak pemicu yang bisa menyebabkan seseorang mengalami depresi, salah satunya adalah perceraian orangtua. Depresi sendiri ada banyak jenisnya dengan gejala yang berbeda-beda pula. Beberapa jenis depresi yang bisa menyerang anak broken home akibat perceraian adalah: 

Depresi Situasional

Seperti namanya, jenis depresi ini terjadi karena situasi tertentu, termasuk karena perceraian orangtua. Jenis depresi ini biasanya diawali dengan gejala stres dan berujung pada kondisi yang lebih dalam. Jenis depresi ini ditandai dengan gejala depresi, seperti perasaan murung, perubahan pola tidur, perubahan pola makan, serta mengalami tekanan mental yang cukup tinggi. Munculnya gejala tersebut merupakan respon otak terhadap stres. Selain perceraian, jenis depresi ini juga bisa terjadi karena kehilangan pekerjaan, perpisahan dengan keluarga atau teman dekat, serta berada di lingkungan baru.

Depresi Berat

Pada awalnya, anak broken home mengalami depresi situasional. Namun seiring berjalannya waktu, tekanan mental dan gejala depresi yang terjadi bisa mengarah pada depresi mayor alias depresi berat. Seseorang dinyatakan mengalami depresi ini jika mengalami gejala, seperti kesedihan, keputusasaan, dan kesepian yang berlangsung dalam jangka panjang, misalnya lebih dari dua minggu. 

Depresi mayor umumnya memiliki gejala yang cukup serius dan memberi efek yang besar pada aktivitas serta kualitas hidup anak. Penyebab pasti depresi mayor belum diketahui, tetapi kondisi mental yang selalu tertekan akibat pengalaman buruk dan trauma psikologis diduga bisa menjadi salah satu pemicunya. 

Depresi Kronis

Depresi kronis merupakan jenis depresi yang paling sering terdiagnosis. Namun, umumnya jenis depresi ini berlangsung dalam jangka waktu yang sangat panjang, yaitu dua tahun berturut-turut atau lebih. Namun, gejala yang muncul pada kondisi ini pun beragam bisa bersifat ringan atau justru sangat berat. Meski begitu, depresi kronis umumnya tidak terlalu mengganggu aktivitas harian. 

Dalam jangka panjang, depresi kronis bisa memengaruhi kualitas hidup pengidapnya. Anak yang mengidap depresi ini rentan mengalami gangguan pada pola pikir, sulit berkonsentrasi, tidak percaya diri, serta mudah putus asa.

Harapan Cerah menanti

Hari esok kan lebih baik dari hari ini

Selalu Alasan logis lainnya mengapa anak broken home juga bisa sukses dan bahagia ialah, karena menjadi anak broken home bukan berarti membatasinya dalam mengembangkan diri. Dengan kemauan diri yang kuat, siapapun bisa mengembangkan diri menjadi lebih baik, termasuk juga dalam mengasah bakat.

Kata Motivasi 

I don’t feel any shame I won’t apologize if there ain’t nowhere you can go running away from pain when you’ve been victimized tales from another broken home.” – Billie Joe Armstrong. Saya tidak merasa malu Saya tidak akan meminta maaf jika tidak ada tempat untuk melarikan diri dari rasa sakit ketika Anda telah menjadi korban cerita dari keluarga berantakan lainnya.)

Letting go hurts, but it’s part of the healing process.” (Melepaskan memang menyakitkan, tapi itu bagian dari proses penyembuhan)

Sometimes the best families are the ones God builds using unexpected pieces of our hearts.” – Melanie Shankle. (Terkadang keluarga terbaik adalah keluarga yang Tuhan bangun dengan menggunakan potongan hati kita yang tidak terduga.)

“Keluargaku memang sudah tidak utuh, namun keinginan mengajar cita-cita masih tetap teguh.”

“Perceraian orang tua membuatku sadar bagaimana cara menerima keadaan tanpa membenci kehidupan.”

“Beberapa anak beruntung karena dibesarkan dari keluarga yang utuh, sisanya lebih beruntung karena diberi hati dan tulang yang kuat untuk berusaha sendiri.”

“Broken home bukan masalah dan aib, bukan juga sesuatu yang lantas membuat kita malu.”

“Terlalu rusak untuk disatukan, terlalu hancur untuk diperbaiki. Namun aku mampu berdiri kembali dengan kaki sendiri”.

“Pertengkaran mungkin bisa membuat orang tuaku berpisah, namun nanti ketika aku punya pasangan, aku tak akan menyerah pada keadaan hanya karena pertengkaran.”

Komentar