Tatkala Maut Menanti


Purwakarta, candatangan – Kita berjalan menuju ajal setiap detiknya. Jenazah hari ini masih bernafas kemarin dan jenazah besok masih bisa bernafas hari ini. Hari ini kita masih di atas tanah, dan mungkin besok justru tanah yang telah berada di atas kita…
Mengherankan perilaku manusia tatkala mereka berada dalam kesenangannya, lalu mereka pun lupa kepada kematian, padahal setiap jiwa berada di samping Malaikat Maut yang tentu bisa datang kepadanya dengan tiba-tiba…
Wahai saudaraku, saat meregang nyawa, manakala ruh ditarik serta dicabut, maka mata pun terbelalak, dada terasa sesak, kulit pun merinding, & jari-jemari kaku…
Warna kulit berubah pucat dan sakitnya dapat dirasakan pada setiap urat, yaitu dari setiap syaraf, dan dari bagian-bagian tubuh, persendian-persendian, pangkal setiap rambut, dan kulit. Se-akan2 ada sepucuk dari ranting berduri yang telah diseret dari ujung kaki hingga kepala…
Kemudian anggota badan mati secara bertahap, pertama kali telapak kakinya menjadi dingin, kemudian betis & paha. 
Setiap bagian tubuhnya pun mengalami kelemahan demi kelemahan, kesusahan demi kesusahan sampai ruhnya tatkala mencapai kerongkongan, niscaya ketika itulah pandangannya kepada dunia dan penghuninya terputus, pintu taubat pun tertutup, lantas dirinya pada waktu itu diliputi penyesalan dan juga kesedihan…
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :
“Sekali-kali tidak. Apabila (ruh) itu telah sampai ke kerongkongan, dan dikatakan (kepadanya) : “Siapakah orang yg dapat menyembuhkan ?”, dan dia yakin bahwa itulah waktu perpisahan (dengan dunia), dan bertaut betis (kiri) dgn betis (kanan), kepada Rabbmu-lah pada hari itu kamu dihalau” (QS. Al-Qiyamah [75]: 26-30)
“Alangkah ngerinya sekiranya engkau itu melihat pada waktu orang-orang zhalim itu (berada) dalam kesakitan sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata) : “Keluarkanlah nyawamu”. Pada hari itu kamu akan dibalas dengan adzab yang sangat menghinakan…” (QS. 6 : 93)
Imam Ibnul Jauzi رحمه الله berkata :
“Hati siapakah yang akan kokoh tatkala nafas telah di ujung hayat…!? Hati siapa yang akan kokoh tatkala dia tahu bahwa waktu perpisahan dengan orang-orang yang sangat dicintainya sudah berada di depan mata…..!? Hati siapakah yang akan kokoh tatkala dia sadar sudah tak tahu kemana tempat kembalinya yang abadi….!? Yang ada saat di depan mata pada saat itu hanyalah siksaan dan juga kuburan…” (Shaidul Khathir hal 169)

https://about.me/yodisupriyadi

Komentar